Selasa, 20 Desember 2011

Goro dan Ronda sudah jadi Kebiasaan

Oleh Heri Faisal



Di tengah virus cuek melanda masyarakat zaman sekarang, masih ada kompleks perumahan yang tetap menjaga tradisi gotong royong dan ronda. Dua kegiatan yang tidak saja menjaga lingkungan, tapi sekaligus menjadi ciri dasar masyarakat Indonesia yang perlahan terdengar sayup. Bagaimana ceritanya? 

Pupuk terus keakraban (f/ist)

Sekitar 90 kepala keluarga (KK), para bapak bersama anak istrinya tumpah ruah di sepanjang jalan kompleks perumahan RT/RW 03/07 Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Minggu (17/7) malam. Mereka tidak menuntut kucuran dana gempa atau hendak berdemo ke balai kota.

Beralaskan tikar seadanya yang disediakan dari rumah ke rumah, para bapak duduk rapi bersila memanjang di kiri kanan jalan. Yang lebih tua memakai peci beragam warna. Anak-anak usia sekolah hilir mudik di antara mereka, bermain kejar-kejaran, atau bercengkrama. Sementara ibu-ibu sibuk mengaduk mi, membuat bumbu, menyiapkan piring, sendok, dan perkakas lain.

Malam itu, mereka makan bersama, membuat soto. ”Ini silaturahmi menyambut Ramadhan,” kata Desmon, Rabu (27/7), Ketua RT di kompleks tersebut. Desmon baru setahun ditunjuk jadi ketua RT.

Meski baru dua tahun lalu tinggal di kompleks itu, tetapi sudah seperti berpuluh tahun.
Pak RT satu ini sangat familiar di mata. Orang tua hingga anak-anak, akrab dengannya. Lelaki satu anak itu baru berusia 26 tahun, tetapi tak canggung bertukar pikiran dengan warga yang jauh lebih tua.

”Justru karena muda inilah, mereka yang sudah berumur tak sungkan memberi masukan. Begitupun dengan remaja-remaja, lebih mudah didekati karena dianggap sebagai teman,” ujar anggota polisi pengendalian masyarakat (Dalmas) di Polresta Padang ini.

Kalau berkunjung ke kompleks ini pada siang hari, tampak sepi karena warganya sibuk bekerja. Lain hal jika datang pada sore hari. Suasana kompleks perumahan seperti di kampung-kampung. Rasa kekeluargaan begitu kental. Sesama tetangga saling kenal dan toleran.  

Ada yang asyik ngerumpi sesama, ngobrol santai dengan anggota keluarga di depan rumah, mengajak anak jalan-jalan keliling kompleks sambil  bertegur sapa dengan warga lainnya, hingga pemandangan para bocah sibuk bermain kejar-kejaran, petak umpet di sepanjang jalan. Ramai sekali.  

Warga di kompleks itu mayoritas pedagang di Pasar Raya dan buruh bangunan. Di sini masih banyak rumah panggung berusia puluhan tahun. Meski berada dalam kawasan Jati, masih pusat kota, suasana RT/RW 03/07 malah jauh dari kesan itu. Kehidupan masyarakatnya masih mencerminkan jiwa desa yang jauh dari sikap individualis. Gotong royong dan ronda bersama menjadi bagian kehidupan.

”Dulu, waktu bikin jalan itu, ngerjakannya goro saja. Hampir satu bulan baru selesai. Warga kerja siang malam,” kata Darwis, tetua di sana.
Kebiasaan gotong royong di kompleks itu sudah berlangsung lama. ”Waktu saya tinggal di sini tahun 80-an, kami hampir tiap minggu gotong royong, membersihkan got, jalan, dan mushala,” katanya.

Begitu juga dengan keamanan. Kata Darwis, dia belum pernah mendengar ada warga di kompleks tersebut yang kemalingan. Jangan coba-coba berbuat jahat di sini, petugas ronda senantiasa sigap mengawasi tindak-tanduk orang-orang asing yang dinilai mencurigakan.  

Desmon membenarkan kebiasaan itu. Kebiasaan  itu akhirnya membentuk kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan masing-masing. ”Kini tak perlu instruksi RT. Warga sukarela saja,” katanya.

Untuk menjaga keamanan, warga mendirikan posko ronda di kompleks. Desainnya menyerupai kedai kopi. Posko itu setiap malam tak pernah sepi. Warga silih berganti datang ke sana, sekadar main domino, berbincang soal usaha, maota politik dan sekadar nonton televisi. ”Secara tidak langsung, warga sudah ronda di sana,” kata Desmon.

Menurutnya, ketua RT tidak perlu repot mengatur jadwal ronda. Sebab, hampir semua warga, dari berbagai latar belakang, baik pedagang, tukang, hingga pegawai kantoran, membaur bersama di sana. Dengan demikian, pencuri pun takut untuk masuk mencuri ke kawasan tersebut.

Sore hingga malam, memang dimanfaatkan warga untuk berinteraksi sesama mereka. Maklum siang hari tak banyak dari mereka yang tinggal di rumah. Apalagi yang bekerja sebagai pedagang atau tukang bangunan.
Malam adalah satu-satunya waktu untuk saling bersua bertukar cerita. Begitu pula halnya dengan kaum ibu. Menurut Yusni, setiap minggu mereka rutin mengikuti pengajian di masjid. ”Ya, saling kenal semualah,” katanya beberapa waktu lalu.  

Kuncinya, kata Desmon, memupuk terus rasa kebersamaan. Ketua RT harus mampu masuk ke semua lapisan masyarakat. ”Yang tua kita temui untuk memberi masukan, yang muda juga diajak bersama,” ujarnya.
Agar terus terjaga kebersamaan yang demikian, Desmon berencana mengajak warga buka puasa bersama. Duh, indahnya.

Diterbitkan di Padang Ekspres Senin, 1 Agustus 2011

1 komentar:

Sofiatul Mualimah mengatakan...

Alhamdulillah posting yang bermanfaat. saya suka. semoga menjadi amal jariyah bagi penulis. terus berkarya, sebar luaskan dakwah Islam, jalin silaturahmi, silakan follow saya http://www.siteislami.co.cc , semoga menambah ilmu kita. amin