Minggu, 18 Desember 2011

Jadi Benteng Pertahanan ketika Diserang Belanda

Masjid Raya Surau Gadang

Oleh Heri Faisal


Beberapa tahun menjelang kemerdekaan, serangan Belanda terhadap penduduk pribumi semakin gencar, tak terkecuali di Padang. Kawasan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Padang tak luput dari gempuran tentara Belanda.

Ketika serangan Belanda makin genjar menjelang kemerdekaan, masjid ini menjadi tempat berlindung warga. (f/sy ridwan)

Menurut Desmiwati, 46, warga Surau Gadang, berdasarkan cerita almarhum orangtuanya, serangan Belanda juga bertubi-tubi kepada masyarakat di kawasan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo.

Sehingga untuk menyelamatkan diri mereka mengungsi ke Masjid Raya Nanggalo, Surau Gadang. Nama yang kini tertera di plang besar depan masjid, di Jalan Jamil-Jamal, Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo.

Dulu katanya, nama yang digunakan untuk masjid itu adalah Surau Gadang saja. Tetapi dalam perkembangannya  Masjid Surau Gadang kini berubah menjadi Masjid Raya Nanggalo, Surau Gadang. Tetapi masyarakat dengan senang hati masih menyebut nama Surau Gadang untuk masjid tersebut.

Masjid yang dulu dikenal sebagai pusat kegiatan masyarakat di kawasan Nanggalo itu sudah dibangun sejak tahun 1911. Dari kampung Berok, Pagang, Kurao, dan Gurun Laweh warga berbondong-bondong menuju masjid itu untuk melaksanakan shalat. “Karena dulu, satu-satunya masjid di Nanggalo memang adanya di sini,” terangnya.     

Pertama kali dibangun masjid itu memadukan arsitektur Arab dan Minangkabau. Maklum, saat itu pedagang Arab sangat ramai di Padang. Begitu pula cendikiawan Minang banyak menuntut ilmu di negeri Arab, sehingga corak Arab begitu kental di masyarakat.

Pembangunan masjid itu, kata Desmiwati, dilakukan menggunakan sistem pasak. Artinya kayu tidak dipaku melainkan terhubung dengan dipasak antara yang satu dengan yang lainnya. Material bangunan masjid yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat kaum Jambak itu menggunakan bahan-bahan pilihan. Seperti dari batu pilihan, kapur, pasir dan kayu ulin keras.

Dindingnya dibuat tebal, sekitar 25 cm sehingga mampu bertahan dari gonjangan gempa. Pintu-pintu terbuat dari kayu ulin tebal yang tahan lama. Ketika Belanda membombardir Kota Padang, masyarakat sekitar memilih menyelamatkan diri di masjid itu. Ketebalan dinding mampu membendung berondongan senjata Belanda. Sehingga fungsi masjid itu tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai benteng pertahanan ketika diserang lawan.

Selain digunakan tetua kampung sebagai benteng perlawanan terhadap Belanda, masjid berukuran panjang 25 meter itu menjadi saksi setiap kejadian penting di daerah tersebut. Ritual adat, seperti masalah pernikahan dibicarakan di dalam masjid. Rapat adat maupun rapat nagari juga dilakukan di masjid itu, sehingga pantas masjid yang berdiri di pinggir aliran Batang Kuranji disebut pusat aktivitas warga setempat.

“Ketika kanak-kanak, saya masih menemukan bentuk masjid yang asli itu. Tetapi sejak tahun 1989, bentuk yang asli itu sudah dirobohkan pengurus masjid waktu itu dan diganti dengan yang baru,” katanya. Alasannya karena banyak bagian yang sudah rusak dan masjid tidak cukup menampung jumlah jamaah yang kian banyak, sehingga direnovasi menjadi dua lantai.

“Yang kami sayangkan bentuk aslinya menjadi hilang, hingga tidak ada lagi nilai sejarahnya,” ucapnya. Kini, cobalah berkunjung ke masjid tersebut. Tak ada tanda, atau bekas bangunan yang menandakan masjid itu pernah didaulat sebagai benteng terakhir masyarakat Nanggalo menghadapi serangan Belanda. Masjid itu dirubah mengikuti gaya modern sekarang, meski pembangunannya belum juga selesai.

Kebanyakan masyarakat sekitar, apalagi generasi muda sama sekali tidak tahu sejarahnya. Seperti penuturan Sondy, 26, yang dia ketahui hanyalah pernah berdiri sebuah masjid tua sebelum masjid baru tersebut dibangun. Selebihnya dia tak tahu.  

Di dalamnya, ornamen masjid kental dengan nuansa modern. Lantai dan dinding ditutupi marmer baru. Tidak ada tanda-tanda bekas bangunan tua pernah berdiri di sana. Semuanya bersih, tanpa ada peralatan lama, atau foto tua masjid. Orangtua yang tahu betul sejarah masjid tersebut pun sudah tidak ada lagi.

Diterbitkan di Padang Ekspres Kamis, 18 Agustus 2011

Tidak ada komentar: