Minggu, 18 Desember 2011

Siap Lahirkan Kembali Tokoh Nasional

Sejarah Panjang Perguruan Adabiah

Oleh Heri Faisal



Saat anda berkunjung ke kompleks Adabiah di Jalan Perintis Kemerdekaan, kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, anda akan merasakan suasana pendidikan yang sesungguhnya. Bangunan sekolah mulai dari taman kanak-kanak, hingga sekolah tinggi berdiri rapi memenuhi lahan 1,6 hektare itu. Rasanya, sulit dipercaya bahwa sekolah ini berawal dari belajar di surau.

Masjid di komplek Perguruan Adabiah kembali berdiri megah pasca ambruk akibat gempa. (f/sy ridwan)

Menurut Muchlis Muchtar, Ketua Yayasan Syarikat Oesaha (YSO) yang menaungi TK, SD, SMP, SMA, dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Adabiah, sekolah tersebut bermula dari kegiatan mengaji di surau.

Dr Abdullah Ahmad, seorang tokoh agama di masa kolonial Belanda mendirikan pengajian atau madrasah Adabiah pada 1909. Tujuannya selain untuk memberikan pendalaman ilmu agama, juga ingin mencerdaskan anak-anak pribumi yang tidak bisa mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang didirikan Belanda.

”Maka mulailah Syekh Abdullah Ahmad mengumpulkan anak-anak pribumi yang ingin belajar ilmu agama dan umum. Sekolah dilakukan seadanya di surau, dengan duduk di lantai dan peralatan belajar yang juga seadanya,” jelas Muchlis.

Pada tahun 1915 sekolah ini diresmikan pemerintah kolonial dengan nama Hollandsch Inlandsche School (HIS) Adabiah. Inilah HIS pertama di Sumatera Barat. Sejak saat itu pengelolaan sekolah sepenuhnya dikerjakan Sjarikat Oesaha, sebuah yayasan yang diperuntukkan mengelola pendidikan Adabiah.

Yayasan ini didirikan oleh Abdullah Ahmad bersama, Engku Apin, Engku Bute, Sampono Batuah, Engku Ibnu Majid Sidi, Thaher Marah Sutan, Sulaiman Efendi, dan Majid Sidi Sutan.

Saat itu HIS Adabiah memiliki tiga unit sekolah. HIS Adabiah I dan III berlokasi di Jalan Pasarbaru, persis di pertokoan di depan Raya Theatre sekarang. Dan HIS II bertempat di jalan Belatung Kecil yang kini menjadi rumah dinas Wali Kota Padang Jalan Ahmad Yani.

Bahasa Belanda menjadi mata pelajaran wajib yang harus diikuti siswa di sekolah tersebut. Namun penggunaan bahasa Belanda diubah menjadi bahasa Jepang setelah Negara Asia Timur itu masuk ke Sumatera di penghujung 1942. HIS pun diubah menjadi Sekolah Nippon Indonesia (SNI). Kemudian setelah Indonesia merdeka, tahun 1949 sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Rakyat (SR).

Baru kemudian pada 1987 sekolah Adabiah disatukan di kawasan Jati. Yayasan Syarikat Oesaha yang mengelola sekolah tersebut membangun sekolah-sekolah baru yang berjenjang mulai dari TK hingga Sekolah Tinggi. “Fasilitas pendidikan, berupa saran dan prasarana penunjang proses belajar mengajar, terus kami lengkapi. Termasuk merekrut guru-guru yang bermutu,” kata Muchlis kepada Padang Ekspres kemarin (24/8).

Salah satu sekolah tersohor di Sumatera Barat ini menggunakan kurikulum yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Nasional. Meski begitu, pendidikan agama tetap diajarkan di sekolah tersebut melalui pendidikan MDA untuk tingkat SD. Sedangkan untuk SMP dan SMA diperkuat dalam mata pelajaran agama yang dilengkapi dengan praktik ibadah.

Sejarah panjang perguruan Adabiah pada akhirnya telah melahirkan banyak tokoh yang berkiprah untuk Sumatera Barat maupun nasional. Salah seorang yang paling dikenal masyarakat luas adalah Mr. Assaat. Beliau murid perguruan Adabiah angkatan pertama. Namanya dikenal sebagai Presiden RI pada era Republik Indonesia Serikat (RIS).

”Harapan kami, sekolah ini akan terus melahirkan tokoh-tokoh besar yang bisa berkiprah baik di daerah maupun nasional. Sekarang alumninya sudah banyak yang berkiprah membangun Sumbar, termasuk Azwar Anas, Fauzi Bahar, Ali Asmar, dan banyak lagi,” paparnya.

Diterbitkan di Padang Ekspres Kamis, 25 Agustus 2011

Tidak ada komentar: