Rabu, 26 September 2012

Feel Like A Queen

Oleh Heri Faisal

Ya, begitulah, ketika sedang berjalan melenggak-lenggok dengan gaun anggun di atas catwalk. Yang dirasakan para model, seperti menjadi ratu semalam. Betapa tidak, semua mata tertuju pada pesona kecantikan dan lemah gemulai tubuh mereka. Belum lagi paduan senyum merekah, duh penonton mana yang tidak terkesima.


Rini, Intan, dan Morryn tampak anggun dalam sebuah sesi foto (f/sy ridwan)

“Jujur, seperti feel like a queen (merasa seperti ratu) saja, jika tengah beraksi di catwalk. Itu yang paling menarik dengan menjadi model,” kata Rini Oktaviani, 23, kepada Padang Ekspres, kemarin (10/2). Dara yang sudah lima tahun melanglang buana di dunia model dengan tampil di berbagai kesempatan di Sumbar, Pekanbaru, Palembang, ataupun Jakarta itu mengaku menemukan dunia penuh tantangan dengan menjadi model.

“Butuh disiplin dan percaya diri tinggi,” kata mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (UNP) itu.
Disiplin mulai dari cara berjalan, konsentrasi untuk menyesuaikan dengan waktu yang diberikan, hingga menjaga pola makan. Karena seorang model sudah pasti dituntut memiliki tubuh yang proposional.


Nah, pola makan inilah yang sering menjadi kendala para model. Kalau tak pandai mengaturnya, bisa-bisa busana yang akan diperagakan tak muat di badan. “Aku kurangi ngemil malam biar berat badan nggak naik. Termasuk diselingi dengan olahraga rutin,” sebut Intan Aletrino, 18, menambahkan.

Siswa kelas III SMA Don Bosco itu menyebut berat badannya sempat naik karena pola makan yang tidak terkendali.  Demi menunjang bakat modeling yang sudah dimiliki sejak kecil, Intan cepat tersadar untuk segera mengubah pola makan. “Kalau tidak begitu tubuh bisa melar,” ujar dara dengan tinggi 175 cm itu.

Dunia model, sebut Morryn Anne Siregar, 19, tidak cukup dengan wajah cantik dan tubuh ideal.
Dibutuhkan kecerdasan otak untuk menunjang profesi itu. Apalagi untuk tampil di catwalk, jelas butuh ketelitian, konsentrasi, dan improvisasi yang merupakan bagian dari kecerdasan otak.

“Berjalan di catwalk nggak bisa asal jalan aja, tapi mesti ada tema dan improvisasi bila menemui situasional yang tak terduga. Mau tidak mau si model harus jeli menyiasati keadaan,” jelasnya.

Seperti yang pernah dialami Rini ketika awal menjadi model dulu. Ketika tampil di salah satu hotel di Padang, sanggul besar yang dipakainya terlepas. Sebagai pemula, terang saja Rini panik. Tak ayal, peristiwa itu menjadi bahan olokan penonton.
“Kejadian itu sempat bikin saya berhenti beberapa bulan. Tetapi orangtua dan pacar ngasih support terus. Akhirnya ya saya tekuni lagi,” aku pengagum Kimi Jayanti itu. Rini bahkan sudah berencana, setelah menamatkan studinya nanti, akan memulai petualangan baru sebagai model di Jakarta.

Pengalaman berbeda dirasakan Intan ketika mengikuti salah satu peragaan di Padang. Waktu itu, dia tampil dengan memakai gaun berekor panjang dan berat. Tetapi ketika memulai peragaan, petugas yang mestinya membantu mengangkat ekor gaun tersebut malah tidak ada. Jadilah, ia berjalan dengan menarik beban berat yang parahnya tersangkut di salah satu sisi panggung.

Karena tidak ingin terlihat panik, ia memilih melakukan pose sambil menunggu petugas membetulkan gaunnya. “Asli, aku sebenarnya panic. Tapi, sok menikmati saja sambil kasih kode ke petugas,” akunya jujur. Reaksi cepat semacam itu perlu dimiliki oleh seorang model. Tetapi sebenarnya, kelihaian seorang model sudah pasti dipengaruhi jam terbangnya.

Untuk tema, Rini mengaku lebih suka yang kontemporer. Begitu pula Intan. Tema itu, katanya, nyaman dan sesuai dengan jiwanya yang mengesankan apa adanya. Sementara Morryn lebih suka dengan tampilan kebaya. Tetapi yang jelas, mereka sepakat model harus siap dengan busana apa saja.

Diterbitkan di Padang Ekspres, Sabtu 11 Februari 2012

Tidak ada komentar: