Sabtu, 17 September 2011

Belajar Profesional di Udara

 Oleh Heri Faisal
  
Tak sekadar menyalurkan hobi, anak-anak Jingga Radio, Universitas Andalas (Unand) telah mengubah diri memasuki dunia profesional. Ya, sejak 2004 silam radio yang genap menginjak usia 12 tahun pada 11 November nanti, statusnya bukan lagi unit kegiatan mahasiswa (UKM). Tetapi, sudah merupakan sebuah unit usaha di bawah PT Radio Jingga yang sahamnya dimiliki oleh kampus.


Iswatul Hasanah, Aditia Anugraha, Rini Febria, dan Albhika Helizafani kompak dimana saja. Apalagi di sekre mereka, radio Jingga, Auditorium Unand (f/sy ridwan)

“Otomatis kita harus berjibaku mengembangkan marketing-nya,” kata Engla Puspita, tim marketing radio Jingga kepada Padang Ekspres beberapa waktu lalu. Menurutnya, radio Jingga dikelola seperti kebanyakan radio umum yang beredar luas di masyarakat. Hanya yang menjadi pembeda, Jingga 100 persen digawangi oleh mahasiswa sebagai pengurus dan pengelola.

“Paling tua anggota sekarang ini angkatan 2007, sisanya anak-anak baru semua,” sebut Engla. Saat ini, anggota Jingga berjumlah 21 orang. Dalam waktu dekat, akan dilakukan perekrutan anggota baru lagi.



Meski bukan bagian dari UKM, Jingga tetap menjadi sebuah wadah kreativitas mahasiswa untuk menyalurkan hobi terpendamnya. “Pertimbangan utama ketika menerima anggota baru bukan karena kemampuan mereka, tetapi adalah kemauan. Kami nggak mau nerima yang sudah pintar, artinya sudah biasa dengan radio. Tetapi yang mau diajar dari nol,” paparnya.

Sebab, menurutnya, Jingga adalah wadah pembelajaran, sehingga pembentukan karakter diri anggotanya dilakukan di sana. Keanggotaan pun tidak bersifat lama.

“Kalau sudah tamat, tidak bisa lagi menjadi pengurus di Jingga,” tambahnya.
Pengembangan Jingga saat ini, kata Radynal, announcer radio tersebut sudah merambah jauh ke luar. “Kami banyak bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan bermacam kegiatan. Seperti nonton bareng, festival musik, dan macam-macam. Dari berbagai kegiatan itulah kami menghasilkan pemasukan untuk radio, termasuk iklan,” kata mahasiswa Hubungan Internasional itu.

Maka tidak heran, kalau anggota Jingga sudah mendapatkan gaji dari aktivitas mereka itu. “Ya lumayanlah untuk tambahan,” kata Engla enggan buka suara soal nominal honor yang mereka terima. Namun, Engla menilai honor bukan tujuan utama mereka berada di Jingga. “Kami di sini murni untuk belajar, uang itu soal kedua,” sebutnya.

Nama Jingga sendiri sudah berkibar setara dengan radio-radio populer lainnya di Padang. Apalagi, mereka juga memiliki tim Event Organizer (EO) Jingga Production yang konsisten menggelar iven. Tak heran, aktivitas mereka pun makin sibuk setiap harinya.

Sebagai radio kampus, segmen pendengar Jingga kalangan remaja. Sehingga, konten-konten musik dan remaja begitu kental terasa.
“Hampir 50 persen siarannya mengusung tema rock, sebab pendengar kita adalah mahasiswa dan remaja. Tahu sendirilah mereka tidak pernah jauh dari musik,” sambung Engla.

Dari waktu siaran jam enam pagi sampai jam dua malam setiap harinya, respons pendengar relatif tinggi. “Masing-masing penyiar di sini sudah punya fans, sering mereka nelpon ke kantor,” katanya.

Setiap anggota memiliki nama-nama sendiri saat siaran. Engla misalnya, saat nama on Kimi Jovial. “Semua announcer punya nama samaran. Nama itulah yang menjadi karakter announcer bagi pendengar,” katanya.

Saat menjadi announcer, tambah Radynal,  mereka menjadi diri orang lain. Tetapi, kami adalah sebuah karakter yang diciptakan. “Kalau sosok asli misalnya pemalu, saat jadi penyiar dia bisa cuap-cuap lepas. Itu bentuk karakter yang dibentuk untuk penyiar,” jelasnya.

Nah, di radio Jingga semua anggota juga mesti bisa menjadi penyiar, meski di kepengurusan bertugas di posisi lain. Itu pula yang membedakan Jingga dengan radio lainnya.

Diterbitkan di Padang Ekspres, Sabtu 17 September 2011

1 komentar:

budi mansyah mengatakan...

Wuih, jingga msh eksis ya.teringat kalo siaran malam, cari makan susah. Haha