Kamis, 14 Oktober 2010

The Canterbury Tales, Misteri Karya tak Selesai


Oleh Heri Faisal

             Mungkin sebagian penikmat sastra, khususnya sastra Inggris sudah pasti pernah mendengar dan membaca sebuah karya klasik abad pertengahan berjudul The Canterbury Tales. Ya, karya tersebut ditulis oleh seorang sastrawan yang kemudian dianggap sebagai bapak sastra Inggris (the father of english literature), karena beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan sastra atau menuliskan sastra dalam bahasa Inggris. Sebelumnya karya sastra hanya ditulis dalam bahasa Latin dan Prancis. Namanya Geoffrey Chaucer. Tercatat sebelumnya bahwa Chaucer adalah seorang birokrat, pengusaha, dan philosof. Namun semasa hidupnya ia sangat mengagumi sastra dan menggunakannya sebagai modal untuk mengkritisi berbagai kebijakan gereja.
             Kembali pada pembahasan The Canterbury Tales, seorang kritikus sastra pernah menulis dalam blognya bahwa karya fenomenal Geoffrey Chaucer yang berjudul The Canterbury Tales adalah karya yang tidak pernah selesai. Padahal karya tersebut sudah menjadi rujukan dan digemari banyak orang, tidak hanya di Inggris pada abad ke-14 tetapi dikenal di seluruh Britania dan Eropa. Secara logika mustahil orang akan mengagumi karya tersebut jika tidak terselesaikan oleh penulisnya.
              Namun, secara tidak langsung komentar tersebut sudah pasti akan menimbulkan pro dan kontra dikalangan praktisi sastra. Begitu pula yang terjadi pada diri penulis. Ada semacam ketidakpuasan atas komen tak beralasan tersebut. Tetapi yang jelas penulis menangkap ada dua hal yang perlu dimaknai dari karya Chaucer berdasarkan pendapat diatas. 


 Karya Geoffrey Chaucer ini telah beberapa kali ditulis ulang dan diterjemahkan dalam berbagai versi (repro)

             Pertama ada kemungkinan bahwa Chaucer memang tidak merampungkan karyanya tersebut. Bisa jadi ia gagal karena tidak memiliki ide-ide lagi untuk menyelesaikan tulisannya, atau justru sebaliknya Chaucer sengaja menyerahkan tanggungjawab kepada pembaca untuk menemukan dan menyelesaikan sendiri permasalahan yang ia ungkap berdasarkan pemikiran dan idealisme pembacanya. Karena pada dasarnya pengarang punya hak penuh terhadap semua karyanya.
              Kedua, yang dimaksud dengan “ tidak pernah selesai” dalam The Canterbury Tales bisa jadi adalah isi dan pesan dari karya Chaucer itu. Karena didalamnya Chaucer menulis 70 buah sajak-sajak naratif yang berbeda dan beragam tentang kehidupan sosial dan pemerintahan di Inggris pada abad pertengahan. Ia menguak berbagai fenomena negatif dalam kehidupan. Mulai dari masyarakat kecil, petani, pedagang dan bangsawan, hingga kritik pedasnya terhadap kaum gereja. Chaucer melihat terjadi ketimpangan yang amat sangat kentara antara rakyat biasa dengan kaum gereja dan para bangawan. Orang-orang yang memiliki kepentingan dan kekuasaan sudah bertindak semena-mena diluar aturan dan norma yang berlaku. Terutama kaum gereja yang pada akhirnya menjelma menjadi para burjois yang hidup berpoya-poya dalam gelimang harta duniawi dan melupakan tanggungjawab mereka untuk mengayomi rakyat. Sehingga rakyat menjadi semakin miskin dan tidak memiliki panutan yang layak.
             Chaucer berhasil membungkus semua permasalahan tersebut dalam balutan sastra yang memikat dan mudah diterima masyarakat. Tetapi persoalan-persoalan seperti itu terus saja ada sampai sekarang, meski model dan tatanannya sudah berubah. Mungkin persoalan seperti inilah yang membuat sebagian orang berkesimpulan bahwa The Canterbury Tales tidak pernah selesai sampai saat ini.

Misteri tak selesai

             Menarik jika membahas The Canterbury Tales dari segi makna yang kedua tadi. Di abad modern seperti sekarang ternyata persoalan yang ada dalam masyarakat jauh lebih komplek. Jika Chaucer hanya menulis ketimpangan dan ketidakbecusan kaum gereja di Inggris pada abad pertengahan. Maka dewasa ini tak hanya urusan kaum gereja atau orang-orang agamais saja yang menjadi persoalan. Tetapi permasalahan meluas ke berbagai kalangan dan ke segala sisi kehidupan. 


 The Canterbury Tales dipentaskan di Maryland Ensemble Theatre pada 26 Maret 2010 (Steampunk Empire)

            Terlalu jauh mungkin kalau kita mengambil contoh dunia atau konflik internasional untuk menggambarkan kekomplekan persoalan di masa sekarang. Cukuplah kita bahas negeri tercinta, Indonesia yang tak kunjung-kunjung lepas dari berbagai persoalan tersebut. Sebut saja berbagai musibah misalnya yang melanda saudara-saudara kita dalam beberapa tahun belangan yang tidak lepas dari ulah buruk keserakahan manusia. Praktek kolusi, nepotisme dan sebagainya yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya bekerja untuk rakyat. Atau sengketa-sengketa antar individu yang kadangkala berakhir dengan kematian. Semuanya sudah dibahas Chaucer 600 tahun yang lalu.
             Lalu kenapa hal-hal demikian masih terjadi ditengah kehidupan manusia yang sudah semakin dewasa dan mengaku modern. Penulis berpendapat bahwa modern yang dimaksud banyak orang adalah modern yang berpatokan pada keberhasilan manusia menemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru dan teknologi yang mutakhir. Kalau memang itu alamat salah besar. Karena dalam pandangan penulis manusia modern adalah manusia yang mampu menempatkan pikiran dan hati mereka secara beriringan untuk menciptakan kedamaian di dunia. Bukan sebaliknya memanfaatkan pemikiran mereka yang canggih untuk kemudian menguasai dunia. Mengambil hak-hak yang bukan miliknya. Itu sebenarnya sebuah kemunduran, karena ternyata kita telah kembali ke abad 14 dimana orang-orang tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya.
             Pada tahun-tahun belakangan, beberapa orang dengan bangganya mengaku kalau mereka adalah rasul. Padahal sebelumnya mereka dikenal sebagai para ulama yang telaten membimbing masyarakat. Apa yang terjadi dengan mereka? Manipulasi agama seperti yang dilakukan para biarawan dan kaum gereja di abad pertengahan terjadi lagi di abad modern dengan skrip cerita yang jauh lebih bagus. Tetapi tidak mengurangi nilai kemunduran akhlak manusia abad ini. Atau beberapa ulama dengan sesuka hatinya memperduakan istri, menikahi anak dibawah umur, dan tindakan tidak normatif lainnya. Memang benar, jika hal-hal yang demikian tidak dilarang dalam agama. Tetapi hidup bukan hanya persoalan agama. Bahkan norma kadangkala jauh lebih agamais dari pada aturan dalam agama itu sendiri.
             Lalu dalam dunia politik, berbagai tindakan tidak fair juga acap kali terjadi. Sebut saja pemilu yang banyak menimbulkan pro dan kontra. Seringkali hanya menguntungkan sebagian pihak saja. Ujung-ujungnya masyarakat juga yang menjadi pesakitan. Juga persoalan pendidikan, perebutan tanah, dan sebagainya. Terlalu banyak jika diuraikan satu per satu. Yang jelas semua persoalan itu berakibat negatif bagi peradaban secara umum.
            Sebenarnya manusia sekarang ini sudah maju (modern) atau belum? Kalau penulis yang jawab,. penulis akan bilang bahwa kita masih manusia pesakitan yang salah menafsirkan kemajuan dan bisa dikatakan sama sekali belum modern. Kecuali jika kita bisa menciptakan situasi yang lepas dari berbagai persoalan diatas. Maka tatanan dan artian modern yang sebenarnya bisa dipertanggung jawabkan dengan baik. Tetapi, kalau masih seperti yang kita semua ketahui, kita masih jauh dari apa yang dikatakan modern. Ditambah lagi jika melihat perkembangan masyarakat akhir-akhir ini, rasanya mustahil mengharapkan manusia maju dan berpikir seperti yang ada dalam kontek modern yang sebenarnya. Maka jangan heran kalau The Canterbury Tales sampai kapanpun tetap tidak akan pernah selesai.


1 komentar:

Jemario Gurusinga mengatakan...

maaf bro, dimana ada jual buku ini ya? yang modern sama originalnya :D