Oleh Heri Faisal
Taufik, guru agama di sekolah itu, menjadi pengaransemen musik. Dia pembina eskul nasyid dan sangat meminati seni. “Aransemennya sambil latihan saja sama anak-anak,” kata Taufik. Makanya ia tidak membebankan siswanya dengan target-target yang tinggi. “Yang penting tampil lepas dan menikmati saja,” tambahnya.
Diiringi musik balad, dengan perpaduan permainan gitar, pianika, perkusi, dan harmonika, puisi berjudul “Bukit Biru Bukit Kelu” karya Taufik Ismail terasa berbeda ketika ditampilkan di Museum Adityawarman beberapa waktu lalu. Enam orang siswa MAN 2 Padang memainkan puisi penyair Angkatan ‘66 itu dengan penuh penghayatan.
Grup Nasyid MAN 2 Padang tengah berlatih di halaman sekolahnya. (f/padek)
Mereka adalah Ridho Abdul Aziz (gitar), Kurnia Nanda (vianika), Kurnia Hidayatul (vianika), Oktafril Febriansyah (lead vokal), Bizar Al-Furqon (gitar), dan Pije Jevitson (perkusi, harmonika). Semuanya anggota Grup Nasyid Shohibussalam dan Shohibatussalam yang didirikan sejak lima tahun lalu. Grup ini menjadi ekstrakurikuler (eskul) yang banyak diminati pelajar.
Taufik, guru agama di sekolah itu, menjadi pengaransemen musik. Dia pembina eskul nasyid dan sangat meminati seni. “Aransemennya sambil latihan saja sama anak-anak,” kata Taufik. Makanya ia tidak membebankan siswanya dengan target-target yang tinggi. “Yang penting tampil lepas dan menikmati saja,” tambahnya.


